Tri Hita Karana Menjalin Kehidupan Hormonis Bermasyarakat di Bali - Br. Giri Dharma Camplik
Headlines News :
Home » » Tri Hita Karana Menjalin Kehidupan Hormonis Bermasyarakat di Bali

Tri Hita Karana Menjalin Kehidupan Hormonis Bermasyarakat di Bali

Written By Br. Giri Dharma Camplik on Minggu, 18 November 2012 | 11.28.00

A.Pengertian

Tri Hita Karana ,berasal dari bahasa sansekerta. Dari kata Tri yang berarti tiga, Hita berarti sejahtera dan Karana berarti penyebab. Pengertian Tri Hita Karana adalah tiga hal pokok yang menyebabkan kesejahteraan dan kemakmuran hidup manusia.Konsep ini muncul berkaitan erat dengan keberadaan hidup bermasyarakat di Bali. Berawal dari pola hidup ini muncul dan berkaitan dengan terwujudnya suatu desa adat di Bali. Bukan saja berakibat terwujudnya persekutuan teritorial dan persekutuan hidup atas kepentingan bersama dalam bermasyaraakat,juga merupakan persekutuan dalam kesamaan kepercayaan untuk memuja Tuhan atau Sang Hyang Widhi.Dengan demikian suatu ciri khas desa adat di Bali minimal mempunyai tiga unsur pokok,yakni :wilayah,masyarakat dan tempat suci untuk memuja Tuhan/Sang Hyang Widhi.
Perpaduan tiga unsur itu secara harmonis sebagai landasan untuk terciptanya rasa hidup yang nyaman,tenteram,dan damai secara lahiriah maupun bathiniah. Seperti inilah gambaran kehidupan desa adat di Bali yang berpolakan Tri Hita Karana.

B. Bidang Garapan Tri Hita Karana

Adapun bidang garapan Tri Hita Karana dalam kehidupan bermasyarakat,adalah sebagai berikut:
  1. Bhuana dan Karang Desa. Bhuana adalah alam semesta,Karang Desa adalah wilayah teritorial dari suatu desa adat yang telah ditentukan secara definitif batas kewilayahannya dengan suatu upacara adat keagamaan .
  2. Kerama Desa Adat,yaitu kelompok manusia yang bermasyarakat dan bertempat tinggal di wilayahdesa adat yang dipimpin oleh seorang Bendesa Adat dan dibantu oleh prajuru (aparatur) desa adatlainnya seperti kelompok-kelompok Mancagra, Mancakriya dan Pemangku ,bersama-sama masyarakat desa membangun keamanan dan kesejahteraan masyarakat.
  3. Tempat Suci adalah tempat untuk memuja Tuhan/Sang Hyang Widhi dan Sang Hyang Widhi sebagai pujaan bersama yang diwujudkan dalam tindakan dan tingkah laku sehari-hari. Tempat pemujaan ini diwujudnyatakan dalam bentuk Pura Kayangan Tiga. Setiap desa adat di Bali wajib memilikinya.. Pura Kayangan Tiga itu adalah : Pura Desa,Pura Puseh,Pura Dalem. Pura Kahyangan Tiga di desa adat di Bali seolah-olah merupakan jiwa dari Karang Desa yang tak terpisahkan dengan seluruh aktifitas dan kehidupan desa.

C. Manfaat Tri Hita Karana dalam Kehidupan Sehari-hari dalam Rangka Melestarikan Lingkungan Hidup

Di dalam kehidupan masyarakat Hindu di Bali, kesehariannya menganut pola Tri Hita Karana.Tiga unsur ini melekat erat setiap hati sanubari orang Bali. Penerapannya tidak hanya pada pola kehidupan desa adat saja, namun tercermin dan berlaku dalam segala bentuk kehidupan bermasyarakat,maupun berorganisasi.Seperti salah satu organisasi pertanian yang bergerak di bidang pengairan yakni Sekehe Subak. Sistem Sekehe Subak di Bali mempunyai masing-masing wilayah subak yang batas-batasnya ditentukan secara pasti dalam awig-awig (peraturan ) subak.Awig-awig ini memuat aturan-aturan umum yang wajib diindahkan dan dilaksanakan.apabila dilangggar dari ketentuan itu akan dikenakan sanksi hukum yang berlaku dalam awig-awig persubakan. Tri Hita Karana Persubakan menyangkut adanya sawah sebagai areal,ada krama subak sebagai pemilik sawah,dan ada Pura Subak atau Ulun Suwi tempat pemujaan kepada Sang Hyang Widhi dalam manisfestasinya sebagai Ida Batari Sri,penguasa kemakmuran.

Desa Adat terdiri dari kumpulan kepala keluarga(KK).Mereka bertanggung jawab atas kelangsungan hidup keluargganya.Setiap keluarga menenpati Karang Ayahan Desa,yang disebut karang sikut satak.Disinilah setiap KK bebas mengatur keluarganya.Pola Kehidupan mereka tank lepas dari pola Tri Hita Karana,hal ini dapat dilihat dari Karang Sikut Satak yang ditempati. Secara umum penempatan bangunan di karang itu berpolakan : Utama Mandala, tempat bangunan suci untuk memuja Sang Hyang Widhi dan Para Leluhur,letaknya di Timur Laut pekarangan dinamakan Sanggah Kemulan.Madya Mandala tempat untuk membangun rumah, Balai Delod, Dapur, Kamar Mandi, Lumbung dan bangunan lainnya. Nista Mandala tempat membangun Kori Agung,Candi Bentar, Angkul-angkul tempat masuk ke Pekarangan Sikut Satak.

Di luar Pekarangan Sikut Satak,namanya teba. Di teba inilah tempat krama Bali membangun ekonominya dengan bercocok taman seperti kelapa,pisang, nangka, durian dan tanaman lain yang memiki nilai ekonomis.Di tempat ini pula anggota keluarga membuat kandang sapi,babi,ayam itik,kambing dan peliharanaan lainnya,sebagai wujud pelestarian lingkungan. Setiap unit kehidupan masyarakat Hindu di Bali senantiasa berkiblat kepada ajaran Tri Hita Karana,dan telah tercermin dalam hidup harmonis di masyarakat dengan suku bangsa lainnya di Indonesia ,bahkan terhadap para wisatawan yang berkunjung ke Bali.

Kini Tri Hita Karana ,bukan saja baik diterapkan di Bali ,juga ditempat lain terutama yang menginginkan suasana hidup aman,tenteram,sejahtera,sentaosa. Hidup berdampingan secara damai.

Dre@ming Post_____________
sumber : dari berbagai sumber
Share this article :

Total Visitors


Visitor Today

Recent Post

Popular Posts

Kunjungilah!

 
Support : Dre@ming Media | Dre@ming Post | I Wayan Arjawa, S.T.
Copyright © 2011. Br. Giri Dharma Camplik - All Rights Reserved
Template Created by Excata Published by DLC
Proudly powered by Dre@ming Media