GWK Tandatangani Draft Kesepakatan, 6 Bulan Menunggu Lagi, Realkah atau Isapan Jempol? - Br. Giri Dharma Camplik
Headlines News :
Home » , » GWK Tandatangani Draft Kesepakatan, 6 Bulan Menunggu Lagi, Realkah atau Isapan Jempol?

GWK Tandatangani Draft Kesepakatan, 6 Bulan Menunggu Lagi, Realkah atau Isapan Jempol?

Written By Br. Giri Dharma Camplik on Kamis, 28 Agustus 2014 | 11.12.00

Para pihak tandatangani kesepakatan, yang semuanya harus terealisasi paling lambat 6 bulan.
Jika misalnya harimau sekali jatuh ke suatu lubang, iapun tidak mau jatuh kelubang yang sama. Sedapat mungkin ia menghindari lubang tersebut. Namun ketika segala upaya telah ia lakukan, ia terjatuh pada lubang yang sama. Banyak orang bilang harimau itu bodoh. Tetapi apakah betul seperti itu adanya?. Memang ia jatuh tapi dia akan bangun dan berjuang untuk meninggalkan lobang tersebut, apakah ada yang tahu jika saat jatuh pertama dengan saat jatuh yang kedua kalinya kegarangan harimau itu menurun atau bertambah?. Untuk mengetahui jawaban itu silahkan berekseprimen dengan mendekati harimau itu. Akan tetapi naluri untuk membunuh harimau yang jatuh untuk kedua kalinya akan jauh lebih besar berkali lipat. Buktikanlah!. Warga Giri Dharma telah demo untuk pertama kalinya tahun 2009, menghasilkan draft kesepakatan yang bahkan juga ditanda tangani camat. Itupun juga dilanggar GWK. Waktu itu demo tidak sampai 12 Jam. Penutupan GWK pun cuma kurang lebih 12 jam pula. Bukannya tidak ada hasil demo waktu itu, ada seperti dibuatkannya jalan lingkar dan rurung agung namun semua itu tak lepas dari masalah. Seperti jalan lingkar diaspal namun sekarang sudah hanyut dimakan kutu mungkin, disamping itu tidak semua lahan telah dibayar ganti rugi, rurung agung pun seperti itu ada pengerjaan namun tidak ada junturangannya. Mungkin itu hanyalah permen pemanis yang diberikan kepada anak kecil. Tahun 2014 demo kembali dilakukan, penutupan GWK 2 hari full, menghasilkan kesepakatan, dimana semua hasil kesepakatan itu akan terealisasi selama 6 bulan. Namun apakah janji yang tertuang dalam draft kesepakatan akan selesai selama 6 bulan ataukah itu hannya isapan jempol belaka?. Tetapi ingatlah wahai GWK. Harimau yang jatuh untuk kedua kalinya akan bangkit dengan kegarangan yang berlipat-lipat. Janganlah coba-coba mengingkari janji yang telah kau sepakati dan kita tandatangani bersama!. Berikut sedikit cerita demo yang kami kutip dari ungasan.com:

Demo Warga 24 Agustus 2014, Tutup Akses GWK, Ini Salah Satu Pemicunya

Jika kesabaran karena menunggu janji serta merasa diolok-olok oleh GWK, selama kurang lebih 16 tahun mungkin tindakan demo dengan menutup akses GWK hal yang dirasa tepat oleh Warga Suka Duka Giri Dharma. Persiapan kearah itu sudah mencapai persiapan teknis yang matang, ini sesungguhnya sudah diijinkan oleh pihak GWK sesuai Rapat Paruman tanggal 27 Mei 2014. Simaklah pembuatan Rurung Agung yang dijanjikan untuk dikerjakan selama 3 bulan ini belum menampakkan hasil yang diharapkan. Berikut kutipan lengkapnya.

Resume Hasi Rapat dengan Manajemen GWK Tgl 27 Mei 2014
  1. R. Agung sudah disepakati untuk dikerjakan mulai 24 Mei 2014 s.d. 3 bulan berikutnya 24 Agustus 2014.
  2. Site Plan sesuai gambar yang disepakati oleh kelihan Br. Suka Duka dan Kelihan Dinas pada tanggal 21 September 2011. Tetapi masih perlu revisi karena ada masalah di jalur Pura Majapahit dan Plaza Amata.
  3. R. Agung akan dikerjakan dari atas sampai di atas Pura Majapahit. Pihak Manajemen GWK akan mengadakan negosisasi dengan pihak Plaza Amata untuk melanjutkan R. Agung sampai tembus disebelah Kalangan Gandrung dengan batas waktu penyelesaian yang telah disepakati pada poin 1.
  4. Jika dalam waktu tiga bulan yaitu s.d. tanggal 24 Agustus 2014, permasalahan R. Agung tidak mampu diselesaikan, maka warga dipersilahkan menutup akses jalan GWK sesuai yang sudah disepakati 30 Maret 2009 dan resume hasil rapat tanggal 27 Mei 2014.
Terlihat dalam surat aslinya yang ikut menandatangai dari Manajemen GWK: A. A. Rai Dalem, I Nengah Widiana, Kadek Ariasa dan dari Warga Giri Dharma atau Peserta Rapat : I Wyn Kadra, I. B. Artha Adnyana

Warga Giri Dharma Menggugat

Jika janji telah terucap, namun tiada terpenuhi bahkan sampai menunggu 16 tahun lamanya, sesabar apapun manusia itu tentu ada batasnya. Maka salah satu cara untuk menyampaikan inspirasi adalah dengan turun kejalan, menutup jalan, sambil meneriakkan tuntutan dengan harapan tuntutan ini akan segera dipenuhi. Jalan inilah yang ditempuh Warga Banjar Suka Duka Giri Dharma.

Pada tanggal 24 Agustus 2014. Mulai jam 07:00 semua elemen banjar suka duka (STT, KWT, KK, Pecalang) mulai berdatangan.

Acara dimulai dengan persembahyangan dipura br. Suka Duka. Dilanjutkan jalan ke lokasi dimana akses GWK sudah tertutup dan terblokir dengan 12 Truk liston. Disinilah nantinya akan dilakukan orasi, negosiasi, dll. Tampak Polisi sudah bersiaga di tempat tersebut.

Terjadi Pembohongan Publik

Dengan semangat tinggi dan nada yang keras kelihan suka duka Giri Dharma Pak Wayan Kurma, membacakan surat kuasa yang diserahkan GWK, yang di klain dibuat oleh onwner alam sutra Ariyanto. Surat itu katanya memberikan kuasa penuh pada pak Agung Rai Dalem untuk mewakili GWK menyelesaikan masalah dengan warga giri dharma.

Pembacaan itu bahkan di saksikan oleh Diesel Astawa DPRD Bali Dapil Badung, Made Duama DPRD Badung Dapil Kutsel, Perbekel Desa Ungasan Wayan Sugita Putra, Bendesa Ungasan Ketut Marcin, Camat Kuta Selatan Wayan Wirya, dan sejumlah tokoh lainnya.

Diakhir pembacaan itu tiba-tiba surat itu dilemparkan oleh kelihan karena yang mestinya ditandatangani oleh Pak Ariyanto tapi ditanda tangani oleh Seno.

Dihubungi terpisah dilokasi demo Pak Kurma menyatakan kemarahan dan kekesalannya. "Di depan umunpun yang dihadiri pejabat dan penglingsirpun kita ditipu dikibuli seperti itu, apalagi jika hanya sendiri atau warga banjar saja. Kenapa tadi surat itu tidak diserahkan ke kapolres. Padahal ini kan sudah pembohongan publik", gumam pria jangkung ini.

Sampai saat ini liston yang ditaruh dijalan sebagai sarana penutup dan blokir jalan masih dijaga warga. Sampai kapan liston itu akan dilengserkan dari badan jalan?. Warga yang mendapat dukungan dari pejabat terkait menjawab: "Sampai pihak owner datang berdialog dan mengabulkan tuntutan warga, jika sekarang ya sekarang, jika besok ya besok, jika setahun ya setahun", jawab warga.

Warga Giri Dharma Menggugat, Ini Tuntutan Warga

Sudah 16 tahun kami menunggu kami bosan. GWK segera penuhi janjimu:
  1. Membuatkan kami rurung agung dengan alur yang tepat.
  2. Membuatkan kami jalan lingkar dengan lebar 6 M.
  3. Memberikan prioritas kerja pada warga sesuai skill dan pendidikan yang dimiliki.
  4. Memberikan ganti rugi pada lahan dan rumah yang tergusur.
  5. Memberikan kami lahan dan membuatkan gedung untuk Br. Suka Duka.
  6. Membuatkan kami pemukiman layak huni dengan Listrik dan PDAM.
  7. Mempertahankan kalangan gandrung ditempatnya sekarang.
Itulah tuntutan warga yang tertulis dalam sepanduk dan tuntutan itu merupakan janji dari GWK sendiri bahkan ada yang tertuang dalam MOU.

Pak Camat Jam 16:47 Wita Temui Warga

Sedikit terkejut warga kedatangan camat Kuta Selatan. Warga yang lagi santai di tempat demo depan GWK kedatangan tamu khusus beliau adalah camat Kuta Selatan Wayan Wirya Bersama kelihan adat dan kelihan dinas Br. Giri Dharma datang kelapangan untuk menemui warga.

Ternyata beliau sudah mengecek alur rurung agung. "O ternyata alur rurung agung mengikuti tembok ini ya?. Saya sudah cek tadi dari atas" ungkap pria yang datang dengan topi hitam biru ini.

"Ya memang benar alurnya sesuai tembok ini" jawab warga sambil menunjuk pagar ditimur plaza amata.

Pak camat pun menyalami semua warga sambil berkata: "Kalian sudah makan dan minum, boleh banyak minum asalkan air putih" candanya.

"Mohon maaf semeton sareng sami, saya pinjam kelihannya sebentar". Pak camat pun pergi bersama kelihan Suka Duka, kedat dan kedis Giri Dharma naik mobil xenia warna silver.

Panas! Di Warnai Pengusiran Wartawan dan Walk Out Warga, Ini Kesepakatannya

Dengan alasan kasihan warga kepanasan maka negosiasi yang sedianya dilakukan di tempat demo, depan plaza Amata dialihkan ke Ampitiater GWK. Hal ini sempat mendapat tentangan keras warga, namun karena warga menghargai kelihan Suka Duka Wayan Kurma maka warga dan semua elemen berjalan ke ampitiater.

Namun belum juga akan mulai terjadi pengusiran Wartawan oleh pihak GWK, warga Giri Dharma yang menadari kondisi itu langsung memutuskan untuk mengajukan keberatan. Keliahanpun bernegosiasi atas kejadiaan ini. Tak lama berselang Perbekel Desa Ungasan Sugita Putra mengatakan wartawan boleh masuk tapi harus didata. "Wartawan boleh masuk tapi didata dulu, dari denpost mana,....", kata Perbekel asal Giri Dharma ini.

Mendengar kata didata warga langsung bereaksi keras karena jika didata akan terjadi "seleksi dan pembungkaman pemberitaan" itu kekawatiran warga.

Wargapun kangsung keluar dengan kesal meninggalkan Ampitheater. Diluar warga diberitahu salah satu wartawan. "Pak kami diusir, Pak", ungkap salah satu wartawan. Mendengar kata itu We Mangku Seni mengambil tool penanda jalan dan dilemparkan namun warga lain berhasil menenangkannya sehingga tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

Sesampai ditempat demo semula warga langsung memutar musik Angklung, musik kematian di Bali, melihat Agung Rai Dalem datang dan pihak GWK lainya. We mangku Seni langsung melantunkan kekawin, lagu sakral pengiring kematiaan di Bali.

Setelah semuanya lengkap hadir para pihak pun mulai melakukan negosiasi. Ikut hadir dalam negosiasi Disel Astawa DPRD Bali, Perbekel Desa Ungasan Sugita Putra, Bendesa Adat Ungasan Ketut Marcin, Camat Kuta Selatan Wayan Wirya, Kapolsek Kuta Selatan Gede Redastra, Seno Andhikawanto Dirut Alam Sutra yang mendapat wewenang penuh dari alam sutra, Epivana Personalia Alam Sutra, Bu Tri General Manager GWK, Agung Rai Dalem GWK, Kelihan Suka Duka Giri Dharma, Kedis Kedat Giri Dharma, dan tokoh lainnya serta masyarakat tentunya.

Negosiasi berjalan alot bahkan untuk menyelesaiakan poin 1 membutuhkan waktu 5 jam bahkan diselingi breaktime untuk konsolidasi masing-masing. Warga Giri Dharma konsolidasi di kalangan Gandrung. Setelah break sekitar 20 Menit negosiasi kembali dilanjutkan. Nah inilah hasil negosiasi yang ditandatangani oleh semua pihak negosiator, penglingsir dan lain-lain. Berikut selengkapnya:

Resume Hasil Negosiasi Suka Duka Giri Dharma dengan Manajemen PT GAIN Tanggal 25 Agustus 2014.

1. Rurung Agung

  • Disetujui dibelokkan kearah barat dengan catatan mempunyai kekuatan legal baik hukum maupun sosial
  • Perlu dilengkapi gorong-gorong (got) dan pembatas jalan
  • Ada pembeda dengan ciri di paving dan disesuaikan dengan estetika dan budaya
  • Perlu diupacarai secara niskala dengan upacara “pemelaspasan” dan “Penuntunan”.
  • Perlu waktu pengerjaan selama enam (6) bulan s.d. tanggal 25 Februari 2015.
  • Jika ada perubahan, harus selalu dikoordinasikan dengan pengurus dan warga Suka Duka Giri Dharma.
2. Jalan Lingkar
  • Akses keluar masuk kawasan GWK diijinkan untuk masyarakat Giri Dharma dan perlu dituangkan dalam legal drafting dan master plan.
  • Lebar jalan lingkar disepakati 6 M.
  • Masalah limbah akan ditangani dengan sistem STP dan selesai selama 6 bulan s.d. 25 Februari 2015.
  • Ketinggian tembok akan dikoreksi agar kawasan tidak terkesan ekslusif dan tertutup.
  • Permasalahan tanah yang dilalui jalan lingkar di lokasi tanah Pak Purja perlu dilakukan negosiasi lebih lanjut.
3. Letak Balai Banjar Suka Duka dan Balai Kesenian Gandrung.
  • Letak Balai Kesenian Gandrung disepakati tetap pada lokasi sekarang dan dilakukan pemeliharaan dan penataan oleh Manajemen GWK.
  • Letak balai Banjar Suka Duka diusahakan di lokasi tanah Bapak Purja dan pihak manajemen GWK harus melakukan negosiasi lebih lanjut mengenai masalah kesepakatan harganya.
  • Sertifikat tanah lokasi Banjar Dinas Giri Dharma harus segera diselesaikan.
  • Untuk akses pintu masuk Br. Dinas Giri Dharma dimohonkan dapat diberikan jalan masuk melalui pintu selatan.
4. Fasilitas Listrik dan Air
  • Air untuk masyarakat di lingkungan kawasan GWK sejumlah 18 KK sudah direalisasikan.
  • Air di pemukiman sudah didaftarkan dan sedang diproses lebih lanjut. Negosiasi sudah dilakukan oleh Bapak Camat dan Bapak Disel Astawa agar proses pengadaan dan pelayanannya bisa dipercepat.
5. Tenaga Kerja
  • Manajemen GWK berkomitmen untuk menghargai MOU yang pernah ada (MOU tahun 2000)
  • Manajemen GWK mohon diberi waktu memperbaiki standar Operational Procedur (SOP) khususnya untuk warga Giri Dharma.
  • Managemen GWK mempunyai tanggung jawab moral dalam pengembangan SDM masyarakat Giri Dharma khususnya, dan warga Ungasan pada umumnya.
  • HRD GWK bersedia memberi perlakuan khusus untuk pelamar yang berasal dari Br. Giri Dharma dan mohon berkasnya diberikan catatan.
Dengan ditandatanganinya kesepakatan ini oleh berbagai pihak liston yang memblokir jalan bisa disingkirkan. Warga yang ditanya jika kesepakatan ini dilanggar GWK lagi, apa yang akan dilakukan?. Wargapun menjawab, ini adalah demo terakhir, jika dilanggar mungkin kita tidak bisa melakukan apa-apa lagi, kecuali kita akan tutup GWK untuk selama-lamanya, dan warga akan kembali mengambil tanahnya masing-masing yang dulu diberikan dengan niat baik dan harga yang sangat murah demi kemajuaan pariwisata dan kesejahteraan masyarakat Bali umumnya dan Giri Dharma Khususnya. "Kami akan tutup GWK untuk selama-lamanya dan Kami akan ambil lahan kami kembali, dengan pertaruhan nyawa, Hidup atau Mati", tegas warga dengan wajah dingin.





sumber : Ungasan.com

Share this article :

Total Visitors


Visitor Today

Recent Post

Popular Posts

Kunjungilah!

 
Support : Dre@ming Media | Dre@ming Post | I Wayan Arjawa, S.T.
Copyright © 2011. Br. Giri Dharma Camplik - All Rights Reserved
Template Created by Excata Published by DLC
Proudly powered by Dre@ming Media