Menelaah Pesan Terakhir Manajemen, GWK Bergetar - Br. Giri Dharma Camplik
Headlines News :
Home » , , » Menelaah Pesan Terakhir Manajemen, GWK Bergetar

Menelaah Pesan Terakhir Manajemen, GWK Bergetar

Written By Br. Giri Dharma Camplik on Jumat, 01 Mei 2015 | 16.08.00

Spanduk tuntutan warga di GWK dan dukungan di BBM oleh Perbekel Desa Ungasan Bpk Sugita Purtra dan Kelian Suka Duka Giri Dharma Pak Wayan Kurma
Suatu hal menarik yang patut kita telaah dari isi pesan atau SMS terakhir manajemen GWK ke Pak Kelihan Suka Duka Giri Dharma Pak Wayan Kurya, sms terakhir kurang lebih seperti ini:

"Pak Yan Terima kasih ya, semoga tidak ada lagi yang masang spanduk karena proses masih terus berjalan"

Apakah yang bisa kita pikirkan?..... Ternyata banyak sekali makna yang bisa kita tarik dari pesan itu namun jika dijabarkan mungkin akan menimbulkan suatu yang macam-macam. Namun satu penapsiran sebagai orang lugu yang membaca sms ini adalah:

Pemasangan spanduk yang dilakukan pada Rabu pagi, 29 April 2015 adalah buah dari kemangkiran GWK dalam memenuhi janjinya. Seandainya janji yang sudah disepakati dan ditandatangani itu, dilakukan dan dilaksanakan, mungkinkah akan ada pemasangan spanduk?. Saya pastikan jawabannya tidak. Dalam pesan itu kita tangkap bahwa ada harapan agar jangan melakukan apapun karena proses sedang berlangsung, dalam artian GWK tetap mempunyai niat memenuhi janjinya. Ok tapi coba kita lihat:

"GWK akan segera membayar lahan jalan lingkar 3 M, ketika lahan itu sudah punya sertifikat. Dengan sekuat tenaga pemilik lahan mengurus sertifikate lahan tersebut. Perhatikan ini yang mungkin disebut proses...Waktu rapat di Desa ditanyakan: Apakah jalan yang 3 M itu dimasukkan dalam sertifikate keseluruhan lahan?. Pihak GWK bilang nggak usah karena jalan itu akan menjadi jalan umum cukup dengan surat pernyataan saja. Pihak keluarga OK kami tidak masukkan walau sebenarnya hal ini sangat merugikan kami, namun jika hal ini bisa mempercepat proses maka kami setuju. Maka sertifikat lahan jalan itu tidak dimasukkan dalam sertifikat, proses berlanjut pihak keluarga membuat surat pernyataan atas tanah 3 M ini, oh.. ada kesalahan dari surat itu, surat itu harus yang dibuat dari pihak GWK, ok pihak keluarga setuju.... maka perhatikan....setelah rapat di desa proses berikutnya adalah menunggu pengumuman selama 2 bulan (proses standar BPN), setelah 2 bulan menunggu belum ada kabar...akhirnya ini tindakan pemilik kahan menghubungi Pak Agung Rai Dalem sebagai penanggung jawab pensertifikatan tanah ini yang merupakan orang GWK..... ini yang mereka sebut proses: "Pak Agung, sapunapi kelanjutan dari pengumuman sertifikat lahan?...Lha..itu kan ada kesalahan pada ukuran.... Lho...Kan pihak keluarga sudah menyetujui itu.... ntar saya cek lagi!"..Berarti selama 2 bulan yang mestinya pengumuman di BPN ternyata berkas masih dibawah kolong meja...inilah proses..

Setelah ditelpon itu akhirnya proses berjalan, pengumuman di BPN mulai, kami menunggu 2 bulan lagi (sudah ada dua bulan yang terbuang percuma). Singkat cerita setelah menunggu 2 bulan sertifikate jadi. Perhatikan ini yang disebut proses.... "Pak sertifikat sudah jadi gimana dengan pembayaran di jalan lingkar?. Pak Agung (GWK) : lha ...ini lahan jalan yang 3 M kok nggak dimasukkan dalam sertifikat.... dammmmmm...bukankah kalian yang meminta itu: sahut pihak keluarga. Manajemen GWK: "Waduh sertifikat salah ni harus ada perubahan dan pembuatan sertifikat baru". Perhatikan inilah yang dia sebut proses, dimana mereka dengan berbagai cara mencoba untuk mangkir dari kewajibannya untuk memenuhi tuntutan warga yang sudah masuk dalam MOU.

Halloo Pak Seno sebagai Dirut GWK dari Alam Sutra apakah hal ini yang disebut "PROSES". Ataukah ini hanyalah pikiran negatif kami?. Namun itu baru satu contoh kecil pembebasan jalan 3 M belum lagi masalah karyawan dan lain-lain lho.. Pak.....

Apakah ini salah?. Dengan mengetahui pelbagai pengingkaran yang dilakukan GWK demi mangkir dari persetujuan di MOU, warga yang di motori Mr. Brain Revolution, Pak Waka, dan sejumlah warga yang lain memasang spanduk tuntutan MOU untuk mengingatkan akan batas waktu, namun kemudian ternyata karena hal ini membuat GWK kebakaran jenggot.

Kemudian dengan polos tanpa rasa bersalah bapak mengirim sms kurang lebih seperti ini: "Pak Yan Terima kasih ya, semoga tidak ada lagi yang masang spanduk karena proses masih terus berjalan". Bukankah itu sedikit "nyeleneh" mengutip kata-kata stiker di BBM: "Ha Ha Ha KocaK Bener Lu Pade.."

Berikut kami copy paste sekelumit cerita pemasangan sepanduk dari ungasan.com

GWK Bergetar Lagi 

Setelah menunggu hampir 6 bulan GWK belum juga mampu memenuhi janjinya yang dituangkan dalam MOU, kesabaran wargapun semakin menipis. Tepat tanggal 29 April 2015, Rabu pagi warga mulai melakukan tindakan-tindakan sederhana namun membuat Manajemen GWK kebingungan.
Tindakan warga yang pertama adalah memasang tiang beton dijalan lingkar yang tak kunjung dibayar. Menurut informasi dari Pak Wayan Purja tanah yang sudah dipakai jalan itu akan segera dibayar setelah mempunyai sertifikat. Sertifikatpun diurus sampai selesai namun apa yang kemudiaan terjadi pihak GWK mangkir tidak mau membayar lahan tersebut dengan berbagai alasan. Pemasangan tiang beton itu walau hanya sebuah namun menyulitkan kendaraan proyek masuk ketempat parkir. Tiang ini tidak akan dicabut sebelum pihak GWK menyelesaikan kewajibannya.
Tindakan warga yang kedua yaitu memasang sepanduk dipinggir jalan rurung agung. Walau spanduk ini berukuran kecil namun karena keberadaan dipinggir jalan utama GWK. Membuat manajemen kalang kabut.
Isi dari spanduk itu yaitu: Wahai GWK Realisasikan & Selesaikan Jalan Lingkar 6 M & Tegak Banjar, Kalangan Gandrung, Air Kepemukiman, Masalah Karyawan !!!!
Isi spanduk itu merupakan bagian dari MOU yang dijanjikan dan sudah ditandatangai pihak terkait namun diingkari GWK. Berikut reaksi manajemen yang kami copy paste dari BBM kelian suka duka Giri Dharma (Pak Wayan Kurma):
"Pagi pak Kurma, mohon bantuan bapak, ada spanduk terpasang pak, yg pasang  adiknya pak ketut antara dan wakilnya pak Kurma, mohon spanduk segera di turunkan dulu pak, kita bisa bicara baik2 ya pak, suksema"

Saat kami sedang berada di warung Men Tama tiba-tiba datang Pak Nengah yang diutus untuk bernegosiasi agar spanduk dicabut. Namun Pak Kurma dengan keras meminta agar manajemen segera menyelesaikan dan memenuhi tuntutan warga.

"Pak segera sajalah penuhi tuntutan warga, tanah jalan lingkar dan tegak banjar segera di bayar, masalah karyawan segera diselesaikan, dan juga tuntutan yang lain segera dipenuhi... jeg beres bo...mangkin tiang mau pulang dan mandi dulu", cetus pak Kurma sambil melangkah pergi.

Beberapa saat kemudian dirut GWK (Pak Seno) kembali mengirimkan pesan dan Pak Kurma mempostingnya di BBM group, berikut isi pesannya:

"Ok pak Kurma, tolong di bantu ya pak, agar spanduk di turunkan, beberapa hal saya update : 1. TTD notaris sdh proses & akn dijadwalkn oleh pak agung rai, saya siap utk ttd, 2. Jalan pak Purja sdh proses dgn notaris & akn dijadwalkn oleh pak agung rai, kita siap utk transaksi, 3. Rumah Gandrung design renovasi sdh jadi, hari ini biaya renovasi selesai, pak agung rai akn jadwalkn utk prsetujuan banjar sbelum di renov, 4. Air pemukiman sdh di daftarkan ke pdam tinggal tunggu penyambungan, pak agung rai akan monitor, demikian pak suksema"

Membaca berita itu Pak Kurma dengan beberapa warga langsung ke kantor office GWK untuk mengklarifikasi berita itu. Negosiasi berjalan alot akhirnya pria berbadan tinggi mengirimkan pesan melalui BBM:

"Deadlock"
"Minta di cabut tanpa kejelasan
"

Sementara dukungan melalui BBM menjamur semua memasang DP spanduk diatas, bahkan Perbekel Desa Ungasan Pak Sugitaputra juga berpartisipasi memberikan dukungannya.

Akankah tuntutan warga dipenuhi atau hanya isapan jempol semata, kita tunggu perkembangan masalah ini.......



Mr. Brain Revolution
ungasan.com
Share this article :

Total Visitors


Visitor Today

Recent Post

Popular Posts

Kunjungilah!

 
Support : Dre@ming Media | Dre@ming Post | I Wayan Arjawa, S.T.
Copyright © 2011. Br. Giri Dharma Camplik - All Rights Reserved
Template Created by Excata Published by DLC
Proudly powered by Dre@ming Media