Sinting! Management GWK Gebrak Meja dan Lempar Dompet Saat Paruman Adat - Br. Giri Dharma Camplik
Headlines News :
Home » , , » Sinting! Management GWK Gebrak Meja dan Lempar Dompet Saat Paruman Adat

Sinting! Management GWK Gebrak Meja dan Lempar Dompet Saat Paruman Adat

Written By Br. Giri Dharma Camplik on Minggu, 26 Februari 2017 | 10.46.00

Suasana paruman antar Pihak Br. Giri Dharma dengan Management GWK, jumat 24 Pebruari 2017 di Office GWK
Camplik - Rapat pada hari Jumat tanggal 24 Pebruari 2017 dimulai jam 11 Wita dikantor GWK antara prajuru prewertake wewangunan Br. Adat Giri Dharma dengan Manajemen GWK sujatinya cuma membahas 3 half yaitu:

1. Penataan jalan dan parkir depan Br. Adat Giri Dharma.
2. Perbaikan jalan rurung agung dan jalan lingkar yang benyah latig.
3. Perubahan ukuran stage Br. Suka Duka.

Sesungguhnya jalannya parum berjalan relax dan penuh kekeluargaan awalnya.Walau adanya keluhan mengenai jam rapat yang menurut peserta rapat jam 11-13 Wita itu merupakan jam rawan. Karena istilah balinya jam itu merupakan jam melelancarannya bhuta Kala (menurut mitos).

Pembahasan point 1 dimana Made Nuada sebagai ketua panitia wewangunan mengharapkan adanya kerjasama yang positif dan bersinergi antara pihak GWK dengan prewertaka Wewangunan Br. Adat Giri Dharma. Sebagai contoh penanaman pohon yang baik harus seperti apa, pembangunan candi bentar seperti apa?. Intinya adanya komunikasi kedua belah pihak. Sampai disini belum terjadi  masalah. Namun kemudian pihak GWK menginginkan agar adanya dak beton untuk melindungi kabel, yang pembiayaannya ditanggung oleh banjar. "Namun kami minta agar adanya dak yang melindungi kabel dan sarana lain, yang dibuatkan
oleh Br. Adat Giri Dharma", ujar pak Agung CSR GWK.

Tentu usulan mengenai pembiayaan ini tidak bisa dikabulkan oleh pihak prewertaka wewangunan. "Kami membangun menggunakan dana Bansos pak, anggaran mengenai pembuatan dak itu tidak tercatut didalamnya karena dana bansos itu hanya untuk mengurug, bikin pondasi senderan, pavingisasi dan pembangunan candi bentar", ujar Made Nuada yang juga merupakan ketua LPM Desa Ungasan.

Sesungguhnga kalau kita merunut kebelakang kembali tanggung jawab pembuatan akses jalan adalah tanggung jawab GWK sebagai investor untuk memberikan. Namun bukan GWK namanya jika hal seperti ini tidak diperdebatkan. Setelah sekian lama butuh waktu pingpong sana pingpong sini. Akhirnya Made Nuada
menegaskan bahwa pembangunan akan tetap dilaksanakan bulan April 2017, jika GWK tidak membuat dak sendiri sampai waktu tersebut maka akan langsung dilakukan pengurugan dan penataan. Akhirnya pihak managemen GWK menyatakan akan melakukan diskusi internal dan memperbaiki sendiri dak untuk fasilitas
GWK itu.

Pembahasan pun berlanjut ke point 2, pembahasan dipoint ini yaitu perbaikan jalan rurung Agung dan jalan lingkar yang benyah latig, intinya akan dilakukan secepatnya. Jalan Rurung Agung yang akan diperbaiki adalah jalan tanjakan disebelah selatan Plaza Amata sedangkan jalan lingkar yang mau diperbaiki adalah jalan disebelah utara pondestal disebelah selatan portal. Dalam point ini pembahasan terbilang sangat cepat karena GWK langsung memberikan komitmen untuk melakukan secepatnya.

Sekira pukul 12:30 Wita pembahasan pun berlanjut ke point 3, dibuka dengan kata "pembahasan dipoint ini cuma butuh waktu 2 menit, tapi nggak tahu solusinya", ujar prewertaka wewangunan Br. Suka Duka Giri Dharma I Wayan Sutama. Adapun pembahasan dipoint ini adalah pelebaran stage banjar yang dulunya cuma 2,5 M menjadi kira-kira 4 M lurus dengan tiang penyangga pertama dekat stage.

Menjawab keinginan dari pihak Br. Suka Duka, Agung Rai Dalem hanya menjawab diplomatis, dengan nada rendah: "ya kalau itu keinginan warga banjar ya saya kembalikan lagi ke banjar", jelas CSR GWK ini yang sudah bekerja sejak awal berdirinya GWK.

Jawaban ini sesungguhnya kedengarannya enteng, namun sangat menohok karena didalamnya tersirat dan tersurat makna bahwa perbaikan itu ditanggung oleh warga banjar Suka Duka.

Menengok kebelakang kembali, sesuai akta Notaris Sugitha No. 07, tanggal 7 Mei 2015, pembangunan banjar suka-duka termasuk upakaranya ditanggung oleh GWK. Namun hampir 20 tahun berurusan dengan GWK tentang masalah ini Kelihan Suka Duka sekaligus Kelihan Br. Adat Giri Dharma memberikan solusi kelebihan biaya dari perubahan dari gambar ini akan kami tanggung namun tolong dihitung berapa besar kelebihan itu.

Tampak pihak GWK benar menghitung biaya yang tak seberapa ini, paling cuma kisaran Rp. 4 Juta, dari hal ini pun sesungguhnya pihak warga banjar merasa sangat heran. Masak biaya segitu dihitung dan mau dibebankan ke banjar, dimana harga diri perusahan sebesar Alam Sutra yang mengakuisi GWK.

Lama menunggu hasil hitungan yang tak muncul-muncul kelihan Suka Duka langsung memberikan statemen "Nanti berapapun biaya kelebihannya, kalau kami cuma mampu Rp.500 Ribu, sisanya kami ngidih...(sisanya kami minta), lanjut IWK. Kami yang ikut dalam rapat ini pun merasa sangat gerah dan tak habis pikir, masak perubahan dengan biaya sedikit seperti itu GWK mau membebankan ke banjar. "Masak perusahan besar ngidih pis ngajak banjar", seloroh kami dengan nada bergurau. Karena sesungguhnya jika GWK sampai benar membebankan biaya tersebut ke banjar itu sama saja menjatuhkan harga diri GWK oleh dirinya sendiri. Seloroh tadilah yang membuat para peserta rapat tertawa. Dalam kondisi inilah I Nengah Widana salah satu wakil manajemen GWK menggebrak meja, dan mengambil dompet lalu melemparkannya kedepan perwakilan banjar. Tindakan yang sangat tidak terpuji ini awalnya dikira cuma bercanda, sehingga suasana cair itu tetap berjalan namun kemudian dari raut wajah orang ini tak tersirat senyum sedikitpun, terang saja kejadian ini merubah suasana yang tadinya cair menjadi sangat tegang. Karena menggebrak meja dan sambil mengeluarkan dompet dan melemparkan ke utusan dan prajuru banjar itu bermakna menghina dan merendah utusan adat yang merupakan implementasi dari banjar itu sendiri.

Dengan nada emosi keliahan I Wayan Kurma, menyatakan : "Kalian kesini cuma mencari makan, kelakuan tadi sangat tidak beretika, jika kalian tidak mampu menghormati adat istiadat disini kalian bisa keluar dari wewidangan Giri Dharma".

Pernyataan itu tentu sangat pantas dilakukan oleh kelihan karena demi menjaga kehormatan banjar. Sebenarnya bagaimana kedudukan investor atau perusahaan yang ada di bali, berikut kami beri gambaraan ilustrasinya:


Area GWK yang 80 Ha itu hampir seluruhnya berada di wilayah Giri Dharma, jadi sangat jelas GWK harus tunduk dan hormat kepada Br. Giri Dharma, kelakukan management GWK ini sangat kurang beradab dan sangat melukai hati dan perasaaan warga adat Giri Dharma. Jika GWK tidak lekas meminta maaf secara formal didepan warga banjar dan memecat salah satu wakilnya ini tentu akan berdampak sangat buruk kedepan bagi GWK sendiri.

Kami bahkan mendapat informasi kemarahan warga yang sampai keubun-ubun pasca rapat akan langsung menggeruduk GWK namun hal ini batal karena kelihan adat dan kelihan dinas masih bisa menenangkan warga. Prajuru Banjar akan melakukan langkah yang lebih mederat dengan mengirimkan surat ke manajemen GWK dan menyuruh GWK segera meminta maaf kepada Br. Adat Giri Dharma secara formal serta memecat salah satu utusannya.

Jika hal ini tidak ada realisasi dan itikad baik dari GWK maka akan dilakukan tindakan yang sangat tegas, karena hal ini sudah dikategorikan menghina adat dengan sangat sadis dan sporadis.

Mengenai sanksi apa yang dikenakan, melalui bbm kami menerima pesan dari kelihan adat Giri Dharma yang isi lengkapnya sebagai berikut: "Sesungguhnya Bukan Biaya Yg Tak Seberapa itu Yg Membuat Kita Juga Naik Pitam dan Menggebrak Meja Kelakuan Seorang Petinggi GWK Sungguh Tidak Paham Etika Dan Tata Krama Parum Dengan Prejuru Banjar Adat Padahal Mereka Mereka JUGALAH Sebagai Semeton Bali Yg Harus Ikut Bertanggung Jawab Atas Eksistensi Dan Ajegnya Keberadaan Adat Istiadat  Yg Ada Di Wewidangan Yg Lebih Mengherankan Kita Sudah Datang Baik2 Dengan Niat Baik Membantu Menyelesaikan Permasalahan Yg Ada Eh Malah Mantigang  DOMPET Apakah Layak Orang2 Seperti ini Ngelola Yg Namanya KAWASAN WISATA ADAT DAN BUDAYA Yang Seharusnya Kental Dengan Suasana Ramah Tamah Lemah Lembut dan Mengedepankan Etika dan Tatakrama SUNGGUH SUNGGUH AMAT DI SAYANGKAN ini akan di Catat di Dalam Lubuk dan hati yg paling dalam oleh Setiàp insan Giri Dharma Khususnya Tiang Sendiri Yg Paling Bertanggung Jawab Atas Br Adat Giri Dharma Semoga Tuhan Yg Maha Esa Khususnya Ida Betare Wisnu Mengampuni kita  Semua Atas Kejadian ini Kami Lagi Pikirkan Sangsi Yg Akan Kita Kenakan".

Mungkin perlu juga diketahui sebuah pribahasa bagi para investor, "Dimana bumi dipijak disana langit dijunjung". Hormatilah adat istiadat yang ada dimanapun anda melakukan investasi, apalagi di Bali dengan adat istiadat yang sangat dihormati.













Salam Hangat....!!!!!!!
Mr. Brain Revolution
Share this article :

Total Visitors


Visitor Today

Recent Post

Popular Posts

Kunjungilah!

 
Support : Dre@ming Media | Dre@ming Post | I Wayan Arjawa, S.T.
Copyright © 2011. Br. Giri Dharma Camplik - All Rights Reserved
Template Created by Excata Published by DLC
Proudly powered by Dre@ming Media